1.23.2013

Hanya tinggal rinai hujan yang menghiasi senja kali ini. Butiran air hujan menggelinding dari setiap atap rumah. Jatuh menempa batu cadas di bawahnya. Setetes demi setetes. Selalu seperti itu setiap musimnya, setiap kalanya. Berhari-hari. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun.
            “Kau lihat tetesan air itu?” tanya sang ayah kepada sang anak yang sedang meratapi kegagalan hidupnya.
            “Ya.”
            “Tetesan-tetesan air itu selalu jatuh membentur batu cadas di bawah sana.”

            “Ya.”
            “Setiap kali terbentur, setiap kali itu juga ia hancur.”
            “Ya.”
            “Tapi ia masih saja terus menetes.”
            “Lalu?” sang anak terheran-heran.
            “Berapa lama batu itu akan terbelah?”
            “Entahlah, kurasa itu tidak akan terjadi.”
            “Kau tahu, dulu batu itu adalah bulat cembung.”
            “Lalu mengapa sekarang menjadi cekung?”
            “Masihkah kau bertanya?!”
            Sang anak mengerutkan dahinya.
Sementara rinai hujan masih saja setia menemani setiap hati perih yang terkukung dalam kegelapan. Lain halnya dengan mereka yang mampu bangkit kembali.

Happy enjoy!
post signature
note : picture took from we heart it

0 komentar:

Archives

My Journal