1.23.2013
“Kau lihat tetesan air itu?” tanya sang ayah kepada sang anak yang sedang meratapi kegagalan hidupnya.
“Ya.”
“Setiap kali terbentur, setiap kali itu juga ia hancur.”
“Ya.”
“Tapi ia masih saja terus menetes.”
“Lalu?” sang anak terheran-heran.
“Berapa lama batu itu akan terbelah?”
“Entahlah, kurasa itu tidak akan terjadi.”
“Kau tahu, dulu batu itu adalah bulat cembung.”
“Lalu mengapa sekarang menjadi cekung?”
“Masihkah kau bertanya?!”
Sang anak mengerutkan dahinya.
Sementara rinai hujan masih saja setia menemani setiap hati perih yang terkukung dalam kegelapan. Lain halnya dengan mereka yang mampu bangkit kembali.
Happy enjoy!
Happy enjoy!
note : picture took from we heart it
Label:mini fiction,story
Langganan:
Posting Komentar
(Atom)

0 komentar:
Posting Komentar
Leave a comment